Penulis: Ustadz Abu Umar Basyir
Masih seputar cinta muda-mudi, ada perbedaan menyolok antara
cinta dengan
asmara. Cinta itu masih bernuansa umum. Bisa merupakan hubungan kasih antara anak dengan orang tua, antara seorang muslim dengan saudaranya, bisa juga dialamatkan kepada Allah, kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada para wali-Nya. Sementara kata
asmarahanya ditujukan untuk sebuah hubungan cinta kasih antara pria dengan wanita. Bahkan dalam konsep budaya barat modern,
asmara lebih diidentikkan dengan hubungan kisah-kasih pra nikah. Sangat jarang –atau mungkin tak pernah kita dapati-- istilah hubungan asmara digunakan untuk cinta kasih antara suami istri. Itulah yang mendorong saya untuk dapat memastikan bahwa asmara inilah yang dimaksud oleh para ulama dahulu sebagai
‘isyq(mabuk cinta -adm-).
Secara menakjubkan, Ibnul Qayyim pernah membahas soal penyakit asmara ini, dalam
Ath-Thibbun Nabawi:
Panah asmara terhadap pribadi tertentu adalah penyakit yang menghinggapi hati yang kosong dari cinta kasih terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hati yang berpaling dari Allah, menggantikan Allah dengan selain-Nya. Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Yusuf,
“Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas…” (Yusuf: 24)
Dalil di atas menunjukkan bahwa keikhlasan merupakan faktor efektif untuk menolak hujaman panah asmara berikut berbagai akibatnya seperti perbuatan jahat, perbuatan keji yang memang merupakan hasil dan buah dari panah asmara. Begitu Allah memalingkan penyebabnya, berarti Allah juga melenyapkan substansi penyakitnya, yakni panah asmara.
Oleh sebab itu ada diantara ulama As-Salaf yang menyatakan,
“Penyakit panah asmara adalah aktivitas hati yang kosong.” Yakni [kosong] dari selain pribadi yang dicintainya. Soal kekosongan hati ini –namun bukan karena panah asmara-- Allah pernah mengisahkannya dalam al-Quran,
“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa….” (al-Qashash: 10)
Yakni bahwa hatinya kosong dari segala sesuatu, kecuali ingatan terhadap anaknya, Musa, karena saking cintanya ia kepada anaknya tersebut, karena hatinya sudah demikian bergantung padanya.
Kembali ke soal panah asmara. Panah asmara ini terdiri dari dua konten:
Pertama, anggapan baik terhadap pribadi yang dicintai.
Kedua, keinginan kuat untuk mendapatkannya. Bila salah satu dari keduanya itu hilang, tidak lagi disebut penyakit panah asmara.
Sebab munculnya penyakit asmara ini telah membikin bingung banyak orang pintar. Sebagian di antara mereka berusaha mengulasnya dengan konotasi negatif belaka. Maka kami tegaskan: Sungguh sudah merupakan hikmah Allah yang pasti terhadap ciptaan dan ajaran-Nya, bahwa Allah menciptakan adanya keselarasan dan kecocokan antara yang serupa perangainya, serta ketertarikan siapa saja kepada pribadi yang sesuai dengan dirinya, pribadi yang tabiatnya serasi dengan tabiatnya. Di samping itu ada ketidakcocokan dan kebencian terhadap pribadi yang tidak memiliki keserasian dalam tabiatnya. Rahasia terjadinya kolaborasi dan komunikasi dua arah dalam dunia makro maupun mikro tidak lain adalah karena adanya keserasian, kesamaan dan juga keserupaan tabiat dan karakter. Sementara rahasia terjadinya tolak menolak dan
disinteraksi antara berbagai hal di dunia ini tidak lain juga adanya ketidak serasian dan perbedaan karakter. Dengan adanya realitas itulah penciptaan dan ajaran Allah menjadi sempurna. Sesuatu akan cenderung kepada sesuatu lain yang menyerupai dirinya. Sesuatu akan menjauh dari sesuatu lain yang bertentangan dengan karakternya.
Allah berfirman,
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya….” (Al-A’raaf: 189)
Allah menjadikan faktor penyebab seorang laki-laki bisa senang berada di sisi wanita adalah kesatuan jenis dan spesies juga kesatuan materi dasar. Alasan munculnya segala kecocokan itu, karena si wanita berasal juga dari unsur si lelaki. Sehingga jelas yang menjadi alasan bukanlah penampilan yang cantik, bukan juga kesamaan atau keseragaman tujuan dan keinginan, bukan juga dalam akhlak dan jalan hidup. Meskipun semua itu juga termasuk faktor yang menimbulkan ketenangan dan rasa cinta.
“Jiwa-jiwa manusia ibarat tentara yang dikerahkan, yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling tidak kenal akan berpisah.” [1]
Kalau ada yang menukas: Apabila penyebab terjadinya panah asmara adalah sebagaimana yang kalian paparkan, yakni adanya keserasian dan kecocokan jiwa, kenapa cinta tersebut terkadang tidak abadi pada dua belah pihak? Bahkan kita dapatkan ketidakabadian itu pada diri yang mencintai sendiri? Kalau penyebabnya adalah keserasian jiwa dan reaksi kejiwaan, tentu cinta kasih itu akan terikat sedemikian rupa antara kedua belah pihak.
Jawabannya: Terkadang suatu sebab bisa saja hilang karena hilangnya sesuatu yang menjadi syaratnya atau karena adanya suatu penghalang tertentu. Di sisi lain, bisa menghilangkan cinta kasih. Hal itu terjadi pasti karena salah satu dari tiga faktor:
Pertama, cacat dalam cinta kasih itu sendiri, yakni bahwa cinta kasihnya hanyalah cinta sesaat, bukan cinta sejati. Dalam cinta sesaat memang tidak harus ada kebersatuan, namun justru terkadang menimbulkan kebencian.
Kedua, ada penghalang dari pihak yang mencintai sehingga mencegah cinta kasihnya kepada pihak yang dicintai. Bisa jadi karena faktor fisik, karakter, cara hidup, perbuatan, sosok dan sejenisnya.
Ketiga, adanya penghalang pada diri yang dicintai yang menghalanginya untuk membalas cinta orang yang mencintainya. Kalau bukan karena adanya penghalang itu, cinta kasih itu pasti bersambut (sebagaimana cinta kasih) yang dimiliki pihak kedua.
Kalau seluruh penghalang itu tidak ada, dan cinta kasih itu betul-betul sejati, tentu cinta kasih itu akan datang dari dua belah pihak.
Kalau bukan karena kesombongan, hasad, gila kekuasaan dan permusuhan pada diri orang-orang kafir, tentu para Rasul sudah menjadi orang yang paling mereka cintai, lebih dari diri mereka sendiri, harta dan keluarga mereka. Karena penghalang itu hilang dari jiwa para pengikut para Rasul, maka Rasul-rasul tersebut menjadi orang-orang yang lebih mereka cintai dari diri mereka sendiri, harta dan keluarga mereka.
Artinya, bahwa “panah asmara” adalah salah satu jenis penyakit yang juga mempunyai peluang untuk disembuhkan, bahkan ada beberapa cara terapi yang bisa dilakukan terhadapnya. Kalau orang yang tertikam panah asmara itu memiliki jalan yang sesuai dengan syariat dan masuk akal untuk mendapatkan sang kekasih, itulah obatnya. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Mas’ud radhiallohu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai kawula muda. Barangsiapa diantara kalian yang sudah memiliki “baa-ah” [2] (kemampuan seksual) , hendaknya ia menikah. Sesungguhnya yang demikian itu lebih dapat memelihara pandangan mata dan kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah obat baginya.” [3]
Tapi persoalannya, betapa kebanyakan kita akan
gerah mendengar istilah bahwa
panah asmara adalah penyakit.
“Cinta bukan penyakit, ia anugerah.” Kata si Fulan
“Cinta itu indah, mana mungkin orang menjadi sakit karena keindahan?” kata si Allan.
“Allah yang menciptakan cinta dalam dada. Menganggapnya penyakit, sama dengan anggapan bahwa Allah menciptakan penyakit dalam dada kita.” Kata si Fallan.
Cinta adalah anugerah, tak sedikit pun kita tampik. Makanan dan minuman juga anugerah, soal itu kita sepakat. Tapi, bagaimana dengan makanan curian? Minuman beralkohol? Atau makanan dan minuman bagi orang yang berpuasa, saat ditengah hari, dan ia tidak punya udzur untuk berbuka?
Duhai, bukan makanan dan minumannya yang haram, dan bukan berarti keduanya adalah musibah. Tapi
timing, modus, cara menikmati, dan gairah di balik semua itu, akan menentukan apakah makanan, minuman dan juga cinta, bisa menjadi karunia atau justru musibah dan malapetaka.
Sudahlah, saya tidak ingin berbincang panjang lebar soal perbedaan cinta dengan asmara, dan pernak-perniknya yang begitu mendalam dan penuh ragam pesona, sekaligus ragam kepentingan.
Saya hanya ingin menekankan fokus dalam bab ini: apa tuntutan cinta yang digandrungi remaja-remaja muslim masa kini?
Kesejatian,
yach, kesejatian cinta. Marilah, kita menata diri untuk mengejar kesejatian itu. Cinta sejati adalah cinta abadi. Apakah itu? Ya, betul, cinta yang landasannya adalah mengejar kebahagian akhirat. Cinta muda mudi yang tidak berasas akhirat, hanya berakhir pada kematian. Itu pun kalau beruntung. Sementara cinta yang dilandasi kebutuhan akhirat, akan berlabuh dalam kehidupan tanpa akhir, di surga Allah yang penuh kebahagiaan.
Namun, persoalannya, siapakah muda-mudi kita untuk mencari cinta seperti itu? Ya, sementara perangkap-perangkap setan tersebar di sekeliling kita. Saat memandang yang
dicintai, setan mengendap menyediakan
teropong mautnya. Saat membayangkan yang
dicintai, setan menawarkan kaca pembesar ajaibnya. Saat menyebut nama, atau melihat
genteng rumah sang kekasih, setan menyerbu ke lubuk hati dengan sejuta khayal.
Duhai,betapa banyak perangkap-perangkap maut itu. Maut yang berarti kemurkaan Allah, dan undangan neraka untuk bercengkrama. Betapa mengerikan.
Ya Allah, kami ingin, hanya karena menyebut nama-Mu saja jiwa kami bergetar.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal….” (Al-Anfaal: 2)
-----------
Bagian terakhir dari tiga tulisan dengan judul "Beda Cinta dengan Asmara".
[Baca seri pertama dengan judul
Jilbab-Jilbab Cinta dan seri kedua dengan judul
Remaja Mencari Cinta]
Sumber: Majalah NIKAH Edisi 02 volume 7, Jumadil Awwal – Jumadil Tsani 1429 H (15 Mei – 15 Juni 2008)
Footnote:[1].
Fathu-Bari Syarhu Shohihi Bukhori, Kitab
Al-Anbiya, Bab Kedua : “Jiwa-jiwa manusia ibarat Tentara yang Dikerahkan”, (VI/369), hadits no.(3336), Muslim Kitab
Al-Birru wa s-Shilah wa ‘Adab, Bab: “Jiwa-jiwa Manusia Ibarat Tentara yang Dikerahkan” (IV/4031) hadits no. (159-160), Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab: “Siapa yang Diperintah untuk Dijadikan Sahabat”, hadits no. (4834). Al-Musnad (II/528) hadits no. (10836)
[2]. Yakni kemampuan menikah. Dinamakan dengan
baa-ah (tempat tinggal), karena orang yang menikah, akan menempatkan istrinya dalam satu tempat tinggal. Ada juga yang berpendapat, karena seorang lelaki menjadikan istrinya sebagai tempat tinggal, yakni merasa tenang dengannya seperti layaknya tinggal di rumah. Lihat
Lisanul Arab I : 36, lihat juga
An-Nihayah Fi Gharibil Hadits wa Atsar I : 160, juga
Gharibul Hadits karya Ibnul Jauzi I : 89
